Kamis, 24 Januari 2013

Benarkah Keramas dengan Bir Baik untuk Rambut?



Selain dikenal sebagai minuman penghangat tubuh, bir disebut-sebut bagus untuk perawatan rambut, terutama untuk jenis rambut kering. Benarkah anggapan itu?

“Sejauh ini saya belum tahu keakuratan informasi tersebut. Hanya saja menurut pendapat saya, (bir) justru kurang bagus untuk rambut, karena untuk kesehatan saja bir kurang bagus. Perawatan rambut lebih ke nature (alam) justru sangat baik bagi kesehatan rambut,” kata pakar kecantikan Fenny Hamid.

Fenny merupakan ahli kecantikan yang bekerja sama dengan beberapa merek milik perusahaan consumer goods. Kata dia, perawatan kecantikan dengan bir di Indonesia belum populer. “Justru kalau itu dikenalkan di sini, saya kira akan menimbulkan pro dan kontra. Bir itu kan mengandung alkohol. Walaupun konsentrasinya nol koma, tapi sebagai orang timur pasti akan ada yang mencermati masalah itu,” katanya.

Mengutip beberapa artikel di media asing, bir disebut sebagai obat yang sangat populer dan efektif untuk rambut kering. Proses perawatannya tidaklah rumit. Cukup semprotkan bir organik pada rambut kering, lalu sisir rambut dengan sisir bergigi jarang. Hal ini akan membantu menyebarkan bir ke dalam rambut secara tepat.

Usai disemprot bir, sebaiknya rambut dibungkus dengan menggunakan handuk. Biarkan sekitar setengah jam, untuk kemudian bilas dengan air dingin sampai bersih. Kandungan dalam bir ini disebut  bisa berfungsi sebagai conditioner yang baik bagi rambut kering, hingga membuat rambut lebih bersinar.

Selain mengatasi rambut kering, bir organik juga dipercaya mampu mengatasi masalah rambut tipis yang kerap dialami wanita. Untuk mencegah penipisan berlanjut, gunakan campuran bir dan susu. Campuran kedua bahan dicampur sedikit air ini digunakan untuk memijat lembut kepala, hingga bahan meresap ke dalam folikel rambut dan kulit kepala.

Setelah itu, biarkan 15-20 menit, barulah mencuci rambut dengan shampo ringan dan menggunakan air dingin. Rambut harus dibiarkan kering secara alami.

Kendati bir disebut memiliki manfaat, tapi tidak disarankan terlalu sering digunakan. Bahkan, penggunaan harus dihentikan untuk kulit sensitif.

Fenny mengatakan, selain perawatan tersebut belum populer di masyarakat, produk perawatan kecantikan dari luar negeri belum tentu cocok untuk orang Indonesia. Sebab, karakter orang barat dan timur itu berbeda.

“Tekstur rambut bule belum tentu sama dengan tekstur rambut orang Asia. Jadi nggak semua produk dari luar negeri bagus untuk Indonesia, baik pemasaran maupun fungsinya,” jelasnya.

"Kalau misalnya rambut orang luar negeri cocok pakai produk campuran alkohol, belum tentu di Indonesia cocok karena kita beriklim tropis,” jelasnya.

Menurutnya, penggunaan alkohol untuk perawatan bisa saja, tapi ada batasan. Sebagai contoh, pembersih kuku seperti nail removal mengandung alkohol. Akan tetapi sifatnya hanya obat luar, tidak masuk ke dalam tubuh. Jika alkohol masuk ke dalam tubuh secara kontinyu, jelas akan memengaruhi kekebalan tubuh.

“Saya sendiri  belum pernah melihat ada treatment rambut kering dengan produk rambut yang mengandung alkohol. Tapi saran saya, jika ingin menggunakan produk baru yang mengandung alkohol, mungkin akan lebih baik bila ada uji sampel dulu,” tambahnya.

Fenny lebih condong menyarankan perawatan rambut secara aman dan sehat. Karena iklim di Indonesia hanya ada dua, maka perawatan rambut cukup simpel. Cukup membersihkan rambut dua hari sekali. Selain itu, pilihlah produk rambut sesuai dengan kebutuhan rambut.

Jika kulit kepala berketombe, lanjutnya, maka gunakan shampo anti-dandruff. Apabila rambutnya berminyak maka harus berhati-hati dalam penggunaan conditioner. “Untuk rambut berminyak, conditioner jangan sampai kena kulit kepala karena akan semakin membuat kulit kepala berminyak. Cukup oleskan pada batang rambut,” tandasnya.

Meski sekarang produk perawatan rambut sangat variatif, jangan lupa melakukan perawatan rambut secara natural dari buah-buahan. “Misalnya bikin sendiri dari avokad, sangat bagus untuk rambut. Penyerapannya jauh lebih bagus dan lebih sehat. Paling tidak seminggu sekali atau sebulan sekali. Hasilnya akan lebih terlihat dibanding perawatan instan,” jelas alumnus Universitas Moestopo dan berlatarbelakang pendidikan kecantikan ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar