Sabtu, 15 Desember 2012

Filosofi Laron



Di musim hujan, banyak laron beterbangan menjelang malam tiba. Ketika makhluk sejenis ngengat itu sudah mencapai titik tertentu dalam perkembang
an siklus hidupnya, dia dianugerahi penciptaannya dengan sepasang sayap. Sayap itu memungkinkan dirinya untuk terbang menuju suatu tempat yang jaraknya sering teramat jauh dari tempat di mana dia biasa bersarang.

Mereka keluar dari tempat persembunyiannya di sela-sela kayu dan pepohonan mati kemudian terbang menuju ke suatu titik yang pasti, yaitu sumber cahaya. Di tempat itu mereka bertemu dengan laron-laron lainnya sehingga pertemuan itu bagaikan sebuah konprensi besar para pencari cahaya.

Adakah para laron itu ingin menyampaikan sebuah pesan kepada kita?

Melalui setiap aktivitas yang dilakukannya, para laron mengingatkan kita tentang betapa pentingnya menghadapkan diri kepada arah sumber cahaya, karena menuju cahaya adalah sebuah fitrah bagi setiap manusia.

Di dalam diri kita ada sisi gelap, ada pula sisi terangnya.
Jika kita tidak pernah menambahkan cahaya ke dalamnya maka sisi gelap kita akan menjadi semakin banyak. Sementara sisi terang akan semakin berkurang. Untuk menjadi gelap kita tinggal berdiam diri saja. Cepat atau lambat juga dirinya pasti akan menjadi gelap. Sementara untuk mendapatkan terang, kita harus melakukan usaha-usaha yang sepadan.

Menanti dengan berdiam diri tidak memberikan jaminan kepada kita atas datangnya cahaya terang. Bagi sang laron, menuju sumber cahaya adalah langkah paling akhir dari misi hidupnya. Sementara bagi manusia, seberkas cahaya di dalam dirinya menyala melalui setiap perilakunya yang terpuji. Seperti ketika mereka sedang menghitung langkah 1, 2, 3, dan 4 semuanya berjalan membentuk sebuah untaian proses pencerahan jiwa. Kemudian tepat pada hitungannya yang kelima, mereka melakukan langkah terakhir dalam hidupnya untuk menuju Sang Khaliq, Sang Pemilik Cahaya sesungguhnya.

Di tempat itulah kemudian mereka berkumpul dengan para pencari cahaya yang lainnya, duduk bersimpuh di sebuah lapangan luas untuk mendekatkan diri kepada Sang Pemilik Cahaya Sejati. Setelah sampai di sumber cahaya itu, tunailah sudah misi hidup seekor laron. Setelah tiba di sumber Cahaya Sejati itu, tunailah sudah perjalanan panjang seorang insan. Ketika itu kita bisa menjelma menjadi manusia yang tercerahkan oleh Cahaya Kesejatian. Seseorang yang berhasil melakukan perjalanan itu sesuai dengan panggilan Sang Pemilik Cahaya, akan memasuki babak baru dalam siklus hidupnya yaitu menjadi manusia sejati. Manusia yang memiliki kematangannya secara spiritual maupun fungsi sosial kemasyarakatan.

Bagi seekor laron, menuju cahaya adalah sebuah perjalanan sekali seumur hidup. Oleh karena itu seekor laron mengerahkan semua yang ada di dalam dirinya untuk perjalanan suci itu. Ketika cahaya telah memenuhi dirinya, dia segera menanggalkan sayap sayapnya. Perlambang apakah gerangan ini bagi kita?

Sang laron tengah mengajari kita bahwa jika sudah sampai kepada sumber cahaya maka kita harus meneguhkan hati untuk menutup segala kemungkinan yang bisa membawa kita kembali menuju kepada kegelapan. Jika sayap itu masih dipeliharanya, maka cepat atau lambat dia akan tergoda untuk terbang kembali menuju kepada kegelapan. Dengan menanggalkannya, sang laron menutup semua kemungkinan itu supaya dia bisa memberikan totalitas dirinya di dalam terang meskipun untuk mendapatkannya dia harus mengorbankan sepasang sayap yang dimilikinya.

Manusia tengah diseru oleh sang laron untuk juga melakukan pengorbanan yang sama yaitu pengorbanan untuk membuang nafsu-nafsu yang sering menyeretnya kembali kepada sifat buruk. Menanggalkan sifat sifat tak patut di dalam dirinya. Sehingga ketika kita kembali pulang, kita benar benar hanya membawa cahaya putih lagi bersih sebersih jiwa seorang bayi yang baru dilahirkan.

Sahabat Dunia Aksara, bisakah kita meneladani sikap dan sifat para laron yang menunjukkan totalitas sedemikian tingginya untuk meraih cahaya sejati?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar